, yg menciptakan semacam dopamine “high221; yg bisa menjadikan kecanduan. Tapi perlu saya juga sampaikan fakta lain; bahwa mayoritas (entah berapa, ndak disebut) penikmat pornografi pada akhirnya malah berkurang. Alih2 terobesi dengannya, mereka malah menjadi bosan.

So, opsinya:kita mau ambil risiko anak2 kita jadi kecanduan, atau membiarkan, membebaskan dan berharap pd akhirnya mereka mjd bosan dengannya?

Banyak responden pria yang sepakat bahwa material pornografi justru membuat mereka terhindar dari perilaku kriminal seksual. Gimana2, yg namanya hasrat seksual itu harus terlampiaskan, klo gitu ndak bisa mikir. Lagian, klo dilampiaskan ke pasangan sendiri (teman, pacar; yg nantinya akan dinikahi?), toh ndak ada yg rugi se?

Pengakuan salah seorang komentator di blog pak Budi Rahardjo:
“saya, 16 thn WNI dan asli Indonesia. Saya sering tuhh buka situs2 porno. Saya malah udah cobak gitu2an sama pacar saya tentu saja saya sekarang dahh menikah(hamil bro). Gag ada yang rugi khan?”

Gimana, mau ambil risiko ta?

Polisi detektif Michigan Darrel Pope mengungkap fakta; dari 38.000 kejahatan seksual di Michigan (1956-1979), 41% darinya terjadi dengan material pornografi ditonton pas sebelum kejahatan itu dilakukan. Psikoterapi David Scott menemukan bahwa “separuh dari pemerkosa menggunakan pornografi untuk membuat mereka terangsang tepat sebelum mereka mencari korbannya”.

Adalah mereka yg memiliki konsep diri positif, yg memiliki orang tua yg tak enggan utk berdiskusi tentang issue seks, dan yang memiliki integritas terhadap ajaran agamanya lah yg tidak bermasalah dg bombardir pornografi. Dan alangkah indahnya jika seluruh para remaja dan keluarga di Indonesia bisa seperti itu.

Tyt tidak bisa memang kita menganggap bhw masyarakat kita sudah terdidik dan memiliki rasa MALU yg cukup. Para remaja kita tidak semuanya cukup beruntung bisa dibesarkan di lingkungan yg mendukung perilaku2 santun, baik dan bermoral.

Oleh rekan Alif :
Saya pernah mengalami, lagi maen ke warnet teman, ada anak SMP Masturbasi di warnet sampai muncrat ke layar monitor, gara gara liat bokep. Kemudian anaknya, kami antar dan laporin ke orang tuanya. Dan kata bapaknya, warnet yang salah, kok membiarkan ada content tersebut di warnet.

Ada juga lontaran “Moralitas harus dibina, bukan dipaksakan.”, “Yang penting adalah kesadaran dari dalam”, “Sensor paling pertama itu datang dari diri”.

Sensor yg terpenting itu datang dari diri, betul sekali. Tapi tyt tidak semua dari kita cukup beruntung dibesarkan di lingkungan yang kondusif. Banyak sekali para pelajar kita yg belum punya kompetensi itu dan dg serta merta scr rutin memperturutkan hasrat penasaran & lust mereka. Lho? knp kok bicara ttg pelajar sih? Lha iya, bukankah menkominfo memberlakukan kebijakan ini krn beliau bermaksud hendak memfasilitasi sekolah2 dg internet gratis/amat murah.

Kontrol dari dalam diri jelas yg paling penting. Tapi tyt kita tidak bisa mengasumsikan bahwa seluruh orang berusia cukup (tua selalu berarti dewasa? ) berkemampuan untuk mengontrol dirinya. Pembinaan moralitas masyarakat memang penting, tapi selama itu masih belum berjalan, maka baiknya memang pemerintah melakukan apa2 yg mereka bisa.

Dari seorang komentator blogger bernama Niko;
“Ketika itu ada seorang bapak yg mengantarkan anaknya ke warnet utk main disana. Lalu bapak itu bilang ke operator yg jaga: “Mbak tolong anak ku diajari cara cari gambar-gambar seronok.” Anaknya cowok kira-2 umur 12 th.”

Bukan hanya bagi anak muda sebenarnya. Pornografi juga bawa dampak buruk bagi mereka yg sudah menikah. Pada pertemuan Academy of Matrimonial Lawyers (pengacara yg khusus menangani masalah perceraian) pada 2003 di Amerika, mayoritas pengacara mengatakan bahwa pornografi di internet miliki peran signifikan dalam perceraian.”Semakin saya melihat pornografi, semakin jauh jarak antara saya dan istri. Ada perasaan bersalah karena saya bersikap membanding2kan bintang porno yg sedemikian blak2an dan ekspresif tentang seks, yg berkebalikan dg istri saya” Demikian pengakuan seorang client pada psikolognya. Sang istri tentu bakal kelabakan juga klo diminta bersaing dg model yg seksi krn permak dan operasi

Berikut adl implikasi yg dimungkinkan dari pornografi bagi pasangan yg sudah menikah (berbagai referensi silahkan lihat di bagian akhir tulisan):

  1. Meningkatnya ketidakpuasan pernikahan, dan juga risiko utk berpisah dan bercerai
  2. Menurunnya kepuasan seksual dan keintiman dalam pernikahan
  3. Meningkatnya potensi perselingkuhan
  4. Makin bertambahnya hasrat utk menikmati pornografi yg lebih seru
  5. Devaluasi nilai monogami, pernikahan dan pengasuhan pada anak
  6. Meningkatnya jumlah orang yg berkutat dg penanganan kecanduan perilaku seksual

Silahkan bayangkan dampak dari efek di atas bagi anak dan remaja.

Bagi anak atau remaja yang secara langsung ter-exposed pada content pornografi, maka berikut adalah efek yg terdokumentasi:

  1. Respon emosional yg bersifat traumatis dan negatif dalam durasi yg cukup lama
  2. Hubungan-intim-pertama yang terjadi lebih cepat, risiko terjangkit dan menyebarnya penyakit menular pun terjadi lebih cepat
  3. Munculnya keyakinan bahwa kepuasan seksual bisa dicapai tanpa perlu memiliki perasaan cinta, sehingga seks menjadi komodisasi dan manusia terpandang sebagai obyek.
  4. Dengan teranggapnya manusia (perempuan dan anak2) sbg obyek, maka semakin besar risiko terjadinya pelecehan dan kejahatan pada perempuan dan sesama anak2/remaja. Diawali dg fantasi dan lamunan mesum.
  5. Munculnya keyakinan bahwa pernikahan formal dan memiliki keluarga bukanlah pilihan yang menarik
  6. Meningkatnya risiko munculnya perilaku seksual yg kompulsif dan perilaku adiktif
  7. Meningkatnya risiko exposure pada informasi tak benar terkait seksualitas manusia jauh sebelum sang anak telah cukup umur dan matang, sehingga dia belum bisa mengkontekstualkan informasi tsb sebagaimana mestinya orang dewasa melakukan.
  8. Exposure yg terus menerus pada content seks yg eksplisit menjadikan ybs mjd kurang sensitif, dalam artian ybs akan menjadi lebih bersikap terbuka, toleran, dan menerima beragam perilaku2 seksual. Apa yg tabu menjadi biasa.

Programnya menkominfo ini memang mahal, dan juga lama. Tapi sungguh makan ati dan jauh lebih mahal harga yg harus dibayar nanti jika generasi muda kita lebih asyik menikmati pornografi alih2 meningkatkan kompetensi diri. Mending kita sekarang pusing2 mikirin gimana strategi atau program yang tepat, ketimbang pusing2 gimana mbikin anak2/remaja yang trauma karena diperkosa mjd terpulihkan secara emosional dan konsep diri.

Silahkan lanjut ke halaman 2

Related Posts:

  • Tulisan Paling Top Saat Ini

  • Kategori Tulisan